Jumat, 08 Januari 2016

Bagaimana sih contoh Analisis Isi Riset Kualitatif?

Ya kira-kira kaya gini lah bentuknya :)

Hasil Wawancara Verbatim
Interviewer : Oke Vero sebelumnya apakah kamu pernah mengalami pengalaman penolakan?
Interviewee : Iya pernah.
Interviewer : Oke baik Vero, saya akan memulai bertanya dengan beberapa pertanyaan. Kamu bisa menjawab sesuai dengan yang kamu rasakan. Oke. Bagaimana pendapatmu Ver tentang peristiwa penolakan yang pernah kamu alami tersebut?
Interviewee : Yaa, aku pernah ngalamin waktu aku SMA. Dulunya kan aku selalu sekolah di sekolah swasta dari TK sampai SMP. Nah, aku sempat kaget kan. Aku sempat, pertama kali masuk aku sempat duduk sama anak yang agamanya muslim dan pakai jilbab juga. Terus dia juga eee dari sekolah islamic-islamic school gitu ya kan. Terus, eee disitu kan dia sempat kalo misalnya di sekolah negeri itu kan jam 12.00 itu kan ada kaya sholat apa gitu, pokoknya sholat apa.
Interviewer : Apa maksud kamu Sholat Zuhur?
Interviewee : Ya, pokoknya itu lah. Nah dia ngajak. Dan sebelum-sebelumnya karena minggu-minggu kemaren dia belum tahu kalau aku non muslim. Pokoknya ketika ada sholat gitu dia sempet ngajak,”Vero, kamu ga sholat?”. “Enggak”, kataku kan. “Kenapa?” Aku sempet ngerasa ragu kan buat ngomong gitu kan, tapi mau kapan lagi kan.
Interviewer : Lantas, apa yang terjadi setelah itu?
Interviewee : Di saat itulah saat dia balik dari sekolah itu pokoknya sikapnya berubah banget 180 derajad. Aku ga pernah diajak ngomong sama sekali. Terus dia pergi kemana-mana itu aku ga pernah diajak ngomong. Selama, pokoknya selama yang aku ngomong kalau aku yang non muslim. Pokoknya dia langsung jauhin aku bener-bener. Walaupun kita masih satu bangku.
Interviewer : Iya saya mengerti, silahkan dilanjutkan!
Interviewee : Terus, eee aku juga pernah dituduh sama guruku itu nyontek. Ketika aku dapat nilai tertinggi. Itu bener-bener apa ya, di depan kelas aku dituduh nyontek dan disaksiin sama temen-temen. Padahal aku bener-bener ga nyontek dan nilaiku di rapot juga. Padahal nilai-nilaiku bagus-bagus tapi ga sebagus yang aku dapetin dari hasil-hasil tugas, ujian sisipan, nah itu masih standard-standard gitu. Dan aku juga pernah diejek sama guruku pokoknya. Saat itu pada bulan-bulan puasa. Terus sama, kan aku masih disekolah sampai sore nungguin puasa. Tapi ga tahu guruku itu kenapa, dia bilang, “Vero kamu ngapain disini, emang kamu puasa dateng buka puasa bersama”
Interviewer : Oke saya mengerti, ada yang lainnya Ver?
Interviewee : Terus apa lagi ya. Pokoknya nilai-nilaiku tu pasti kalah sama yang agamanya muslim. Pasti ada nilainya yang dikurangin gitu. Ga mau pokoknya anak-anak yang non-muslim itu lebih tinggi dari anak yang muslim. Gitu. Terus dari temen-temenku juga sih suka kepo-kepo tentang agama nasrani. Pokoknya, bener-bener kaya, misalnya lima orang yang nanya. Aku tu cuma seorang. Kalau misalnya ga tahu kan wajar. Emang aku ini apa, mesti tahu semua tentang agamaku. Aku kan juga bukan ini, apa namanya tu, suster/bruder. “Ah lu gimana sih, ga pernah ke gereja apa?” ya gitu deh.        
Interviewer : Oke begitu ya, seekstrim itu ya bentuk penolakannya. Oke lantas apa yang kamu rasakan saat itu ?
Interviewee : hmm, pokoknya aku tu sempat pengen, ngerasa pengen pindah dari sekolah itu. Dan aku sempat trauma dengan sekolah negeri. Tapi, setelah aku jalanin, coba adaptasi terus, akhirnya ya aku mulai diterima.
Interviewer : Oke terima kasih Vero.











Analisis Data Partisipan VL
Komentar
Verbatim
Tema





Subjek jujur atas pengalamannya.










Subjek mengatakan dengan jujur, bahwa pengalaman penolakannya terjadi pada saat dirinya duduk di bangku SMA.
Subjek merasakan perbedaan yang jelas antara sekolah swasta dan sekolah negeri.






Subjek merasa harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan agama lain untuk beribadah.




Subjek merasa canggung ketika harus mengakui kalau dirinya non-muslim.






Subjek merasa ragu-ragu atas jawabannya sendiri karena tidak sama dengan kelompok mayoritas.   




Subjek merasa mendapat perlakuan berbeda dari temannya, setelah mengakui kalau dirinya non-muslim atau berbeda keyakinan dengan mayoritas temannya.


Subjek merasa kecewa kepada lingkungan kelasnya, karena dirinya mendapat perlakuan yang berbeda dari teman-temannya yang lain.






Subjek merasa mendapat perlakuan yang tidak adil di kelas.
Subjek merasa kerja kerasnya untuk mendapatkan nilai yang baik, sama sekali tidak dihargai oleh gurunya. Dirinya malah dituduh mencontek.













Subjek sungguh merasa tertekan ketika guru subjek pun mempermasalahkan keyakinan subjek.




Subjek mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari gurunya.


Guru subjek membedakan antara murid yang beragama islam dan non-islam.



Subjek merasa tidak nyaman ditanyai tentang agamanya.







Teman-teman subjek langsung menyimpulkan bahwa subjek tidak pernah ke gereja.






Puncak stress subjek, terjadi pada saat subjek merasa ingin pindah dari sekolahnya itu.
Subjek merasa distress


Subjek hanya bisa learned heplessness sambil terus menyesuaikan diri.
Pada akhirnya subjek mulai diterima.
Interviewer : Oke Vero sebelumnya apakah kamu pernah mengalami pengalaman penolakan?

Interviewee : Iya pernah.

Interviewer : Oke baik Vero, saya akan memulai bertanya dengan beberapa pertanyaan. Kamu bisa menjawab sesuai dengan yang kamu rasakan. Oke. Bagaimana pendapatmu Ver tentang peristiwa penolakan yang pernah kamu alami tersebut?

Interviewee : Yaa, aku pernah ngalamin waktu aku SMA. Dulunya kan aku selalu sekolah di sekolah swasta dari TK sampai SMP. Nah, aku sempat kaget kan. Aku sempat, pertama kali masuk aku sempat duduk sama anak yang agamanya muslim dan pakai jilbab juga. Terus dia juga eee dari sekolah islamic-islamic school gitu ya kan. Terus, eee disitu kan dia sempat kalo misalnya di sekolah negeri itu kan jam 12.00 itu kan ada kaya sholat apa gitu, pokoknya sholat apa.

Interviewer : Apa maksud kamu Sholat Zuhur?

Interviewee : Ya, pokoknya itu lah. Nah dia ngajak. Dan sebelum-sebelumnya karena minggu-minggu kemaren dia belum tahu kalau aku non muslim. Pokoknya ketika ada sholat gitu dia sempet ngajak,”Vero, kamu ga sholat?”. “Enggak”, kataku kan. “Kenapa?” Aku sempet ngerasa ragu kan buat ngomong gitu kan, tapi mau kapan lagi kan.

Interviewer : Lantas, apa yang terjadi setelah itu?

Interviewee : Di saat itulah saat dia balik dari sekolah itu pokoknya sikapnya berubah banget 180 derajad. Aku ga pernah diajak ngomong sama sekali. Terus dia pergi kemana-mana itu aku ga pernah diajak ngomong. Selama, pokoknya selama yang aku ngomong kalau aku yang non muslim. Pokoknya dia langsung jauhin aku bener-bener. Walaupun kita masih satu bangku.

Interviewer : Iya saya mengerti, silahkan dilanjutkan!

Interviewee : Terus, eee aku juga pernah dituduh sama guruku itu nyontek. Ketika aku dapat nilai tertinggi. Itu bener-bener apa ya, di depan kelas aku dituduh nyontek dan disaksiin sama temen-temen. Padahal aku bener-bener ga nyontek dan nilaiku di rapot juga. Padahal nilai-nilaiku bagus-bagus tapi ga sebagus yang aku dapetin dari hasil-hasil tugas, ujian sisipan, nah itu masih standard-standard gitu. Dan aku juga pernah diejek sama guruku pokoknya. Saat itu pada bulan-bulan puasa. Terus sama, kan aku masih disekolah sampai sore nungguin puasa. Tapi ga tahu guruku itu kenapa, dia bilang, “Vero kamu ngapain disini, emang kamu puasa dateng buka puasa bersama”

Interviewer : Oke saya mengerti, ada yang lainnya Ver?

Interviewee : Terus apa lagi ya. Pokoknya nilai-nilaiku tu pasti kalah sama yang agamanya muslim. Pasti ada nilainya yang dikurangin gitu. Ga mau pokoknya anak-anak yang non-muslim itu lebih tinggi dari anak yang muslim. Gitu. Terus dari temen-temenku juga sih suka kepo-kepo tentang agama nasrani. Pokoknya, bener-bener kaya, misalnya lima orang yang nanya. Aku tu cuma seorang. Kalau misalnya ga tahu kan wajar. Emang aku ini apa, mesti tahu semua tentang agamaku. Aku kan juga bukan ini, apa namanya tu, suster/bruder. “Ah lu gimana sih, ga pernah ke gereja apa?” ya gitu deh.       

Interviewer : Oke begitu ya, seekstrim itu ya bentuk penolakannya. Oke lantas apa yang kamu rasakan saat itu ?
Interviewee : hmm, pokoknya aku tu sempat pengen, ngerasa pengen pindah dari sekolah itu. Dan aku sempat trauma dengan sekolah negeri. Tapi, setelah aku jalanin, coba adaptasi terus, akhirnya ya aku mulai diterima.
Interviewer : Oke terima kasih Vero.






Penerimaan diri positif











Perjuangan untuk menerima diri dan identitas diri
Diri jasmaniah mulai terbentuk (bertambah kompleksnya pengalaman-pengalaman perseptual)




Kesadaran jasmaniah mulai berkembang (sadar jika dirinya seorang non-muslim, berada di lingkungan yang mayoritas muslim)






Mulai memahami identitas-diri (bahwa dirinya non-muslim)






Harga diri terancam

Mencapai perluasan diri (kepercayaanku seperti ini, saya harus mulai memahami kepercayaan lain)


Diri yang ditolak oleh lingkungan



Feel insecure


Tekanan dan rasa sakit










Konflik eksternal

Lingkungan mengancam eksistensi diri

Tidak mendapatkan penghargaan positif tak bersyarat

Perjuangan proprium












Menerima agresi verbal







Merasa tidak berdaya menerima press



Memperoleh gambaran diri bahwa minoritas pasti akan menerima perilaku penolakan


Mengalami misstrust








Merasa marah









Keinginan untuk menghindar



Distress


Diri sebagai pelaku rasional

Subjek mencapai proprium
(pengalamannya menempanya menjadi pribadi yang kuat)











Daftar Tema Awal (List)
Penerimaan diri positif
Perjuangan untuk menerima diri dan identitas diri
Diri jasmaniah mulai terbentuk (bertambah kompleksnya pengalaman-pengalaman perseptual)
Kesadaran jasmaniah mulai berkembang (sadar jika dirinya seorang non-muslim, berada di lingkungan yang mayoritas muslim)
Mulai memahami identitas-diri (bahwa dirinya non-muslim)
Harga diri terancam
Mencapai perluasan diri (kepercayaanku seperti ini, saya harus mulai memahami kepercayaan lain)
Diri yang ditolak oleh lingkungan
Feel insecure
Tekanan dan rasa sakit
Konflik eksternal
Lingkungan mengancam eksistensi diri
Tidak mendapatkan penghargaan positif tak bersyarat
Perjuangan proprium
Menerima agresi verbal
Merasa tidak berdaya menerima press
Memperoleh gambaran diri bahwa minoritas pasti akan menerima perilaku penolakan
Mengalami misstrust
Merasa marah
Keinginan untuk menghindar
Distress
Diri sebagai perilaku rasional
Subjek mencapai proprium
(pengalamannya menempanya menjadi pribadi yang kuat)




Pengelompokan Tema (Clustering Theme)
Harga diri terancam
Diri yang ditolak oleh lingkungan
Tekanan dan rasa sakit
Konflik eksternal
Lingkungan mengancam eksistensi diri
Tidak mendapatkan penghargaan positif tak bersyarat
Menerima agresi verbal
Merasa tidak berdaya menerima press

Mengalami misstrust
Merasa marah
Feel insecure
Distress
Keinginan untuk menghindar

Penerimaan diri positif
Perjuangan untuk menerima diri dan identitas diri
Diri jasmaniah mulai terbentuk (bertambah kompleksnya pengalaman-pengalaman perseptual)
Kesadaran jasmaniah mulai berkembang (sadar jika dirinya seorang non-muslim, berada di lingkungan yang mayoritas muslim)
Mulai memahami identitas-diri (bahwa dirinya non-muslim)
Mencapai perluasan diri (kepercayaanku seperti ini, saya harus mulai memahami kepercayaan lain)
Memperoleh gambaran diri bahwa minoritas pasti akan menerima perilaku penolakan
Perjuangan proprium
Diri sebagai perilaku rasional
Subjek mencapai proprium
(pengalamannya menempanya menjadi pribadi yang kuat)


Pengalaman Penolakan oleh Teman Sebaya
Silvester Kalpika Narantaka
119114035
I.          Pendahuluan
Penelitian ini merupakan pemaknaan tentang pengalaman penolakan oleh teman sebaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menafsirkan secara lebih mendalam pengalaman penolakan oleh teman sebaya dilihat dari sudut pandang korban penolakan. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran umum mengenai kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dari korban penolakan. Penelitian ini juga disertai latar belakang dari subjek penelitian, seperti konteks, kultural, dan personal.
Penelitian ini memiliki kelebihan yaitu memiliki fokus pada diri subjek penelitian dan latar belakangnya. Secara lebih spesifik yaitu berfokus pada kesejahteraan psikologis dari korban penolakan, bukan hanya pada peristiwa penolakannya saja. Akan tetapi penelitian ini juga mengandung celah atau kelemahan, yaitu sangat sulit untuk dibandingkan dengan data yang identik. Karena tidak semua orang mengalami pengalaman penolakan ini.
Partisipan dalam penelitian ini adalah seorang mahasiswi dengan inisial VL, yang memiliki pengalaman penolakan oleh teman sebayanya pada saat duduk di bangku SMA. Partisipan menjelaskan tentang pengalaman penolakannya tersebut, sejauh yang partisipan tangkap dan alami. Latar belakang partisipan yaitu berasal dari keluarga suku batak dan jawa. Saat itu partisipan tinggal di Jakarta dan bersekolah di sekolah negeri. Sementara partisipan memeluk agama minoritas di lingkungan itu.
   
II.       Hasil Penelitian
A.    Tema Besar 1 à Eksistensi Subjek Terancam
Subjek merasa harga dirinya mulai terancam ketika lingkungannya mengetahui bahwa subjek memeluk agama yang berbeda dengan mayoritas lingkungannya. Subjek kemudian merasa ditolak oleh lingkungannya. Subjek merasa mendapat tekanan dan juga rasa sakit. Hal ini berujung pada konflik eksternal yang dialami subjek. Lingkungan subjek mulai mengancam eksistensi diri subjek. Subjek tidak diterima apa adanya oleh lingkungannya. Subjek menerima agresi dalam bentuk verbal oleh lingkungannya. Pada akhirnya subjek merasa tidak berdaya menerima press tersebut.   
B.     Tema Besar 2 à Muncul Emosi-emosi Negatif
Subjek mengalami krisis kepercayaan kepada lingkungannya. Subjek merasa ingin marah, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Subjek juga merasa tidak aman dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Bahkan subjek sempat merasa distress. Pada akhirnya ada keinginan dari dalam diri subjek untuk menghindar dari situasi tersebut.
C.     Tema Besar 3 à Perkembangan Diri atau Self
Subjek menyadari bahwa untuk menerima diri dan identitas dirinya secara utuh membutuhkan perjuangan yang keras. Diri jasmaniah subjek juga mulai terbentuk ketika pengalaman-pengalaman perseptualnya semakin kompleks. Selain itu, kesadaran jasmaniah subjek juga mulai berkembang ketika subjek menyadari bahwa dirinya seorang non-muslim dan berada di lingkungan yang mayoritas muslim. Subjek pun mulai memahami identitas dirinya. Subjek mencapai perluasan diri ketika dirinya mulai memahami “Kepercayaanku seperti ini, saya harus mulai memahami kepercayaan lain”. Di sisi lain, subjek mulai memperoleh gambaran diri bahwa minoritas sangat rentan menerima perilaku penolakan. Subjek pun mulai menyadari bahwa dirinya berperan sebagai pelaku rasional. Artinya, subjek mulai memahami aturan-aturan baru dan juga pemahaman-pemahaman baru dari keberadaan minoritas di tengah lingkungan mayoritas. Pada akhirnya subjek mencapai proprium ketika pengalaman menempanya menjadi pribadi yang kuat.     

III.    Kesimpulan
Kesimpulan dari pengalaman penolakan adalah “Seseorang yang mengalami penolakan akan merasakan eksistensi dirinya terancam. Kemudian muncul emosi-emosi negatif dalam dirinya. Pada akhirnya orang tersebut akan mengalami perkembangan diri (self). Sehingga ketika seseorang mengalami penolakan, pada awalnya dirinya mengalami krisis dan stress, tetapi akhirnya dirinya akan memperoleh perkembangan diri.”

IV.    Lampiran
-          terlampir